Senin, 22 Desember 2014

Ketemuan dengan Si Awan dan Si Pelangi

Sewaktu kecil dulu aku sering memandangi nun jauh di atas sana awan dengan kesucian warnanya putih-putih, pesawat dan sejenisnya yang terbang melintasi awan-awan itu hingga hilang di telan awan dan muncul kembali.

Di lain waktu juga di saat setelah langit selesai dengan tetesan airnya jatuh ke bumi, aku kembali mendongakkan kepala ku ke atas melihat ke atas sana muncul pelangi dengan beberapa warna-warni yang bervariasi menghiasi lekukan tubuh pelangi tersebut, gak hanya setelah hujan saja terkadang ada malam- malam tertentu bulan dengan sinarnya yang terang membesar seperti kuning telor mata sapi ukuran jumbo di sekelilingnya melingkar beberapa warna, apa itu pelangi juga? gak tahu lah yang jelas lingkaran sinar di sekeliling bulan itu ada bebarapa warna.

Setelah melihat ketiga fenomena alam di atas aku sempat berfikir dengan imajinasiku yang mengada-ada menurutku, "bisa gak ya aku menggapai awan dan pelangi itu, bermain-main dengan mereka, berkenalan dan berbagi cerita", itu pun kalo bisa di ajak cerita.

Eh ternyata aku tidak sekedar bermain dengan imajinasi ku saja, itu sudah ku buktikan setelah umur ku mau jalan 23 tahun, walau tak setinggi yang ku inginkan, tanpa mesti naik pesawat, aku bisa bersama mereka, ya awan dan pelangi itu.

Pertama, sewaktu mendaki Sibayak aku berjumpa dengan si AWAN, aku berkenalan dengan dia, mengajak dia ngobrol walau aku sadar bahasa kami mungkin tak sama dan dia punya kuping atau tidak dan kami pun berteman. Terserah lah itu gak penting bagiku dengan perbedaan kami yang jelas aku sudah punya teman baru yaitu si awan, eiittss bukan awan kinton ya.


Kedua sewaktu masuk ke hutan daerah langkat bersama mereka teman-teman seperjalanan dan se-gila-gilaan kami telusuri jalan setapak yang terkadang mendaki dan menurun, tapi kali ini banyak menurunnya hingga membuat kami harus hati-hati seperti para climber dengan talinya menuruni tebing tapi tidak dengan kami yang mengandalkan akar-akar pepohonan dan sesekali silap batang pohon patah ku buat karena beban ku 65 kg aku mengandalkan batang itu sebagai peganganku, aduh maaf Tuhan aku tak sengaja telah menyakiti makhluk-Mu. Setelah 20 menit kami pun sampai di air terjun itu, Air Terjun Tengah Rembulan orang situ menyebutnya. Seketika aku sedikit terperanjat dengan teriakan si Nurul Nasution and Mukhlis Adi Putra Hasibuan memberi tahuku ada pelangi yang melengkapi keindahan air terjun itu, sontak saja aku perlaju gerak ku untuk bertemu dengan dia, ya si PELANGI. Kami berjumpa di tempat seromantis itu, di apit dua tebing, senyuman si Tengan Rembulan yang menawarkan kesejukan airnya, hutan hujan yang hijau, ya Tuhan aku suka dengan suasana seperti ini.

Ku gapai tangannya dan ku katakan, "hai Pelangi," tapi dia gak jawab, what everlah langsung ku peluk dia erat walau tak berasa dan walau bak memeluk bayang-bayang, Itu pun gak penting bagiku yang jelas aku sudah memperkenalkan nama ku Azwar Ammar, aku melihat dia tersenyum. Dan... oh tidak dia pamit kepadaku, dia mau pergi, mulanya aku tak mengizinkan, aku tak rela dengan pertemuan singkat ini tapi dia terus mendesak sebab dia gak bisa lama-lama bersama kami terlebih lagi bersamaku, dia pergi karena senja mulai datang.

Ooooh Pelangi, kenapa aku tak rela kau pergi begitu saja, apa karena terlalu dihanyutkan oleh perasaan ini, aku merindukan mu di kala aku kecil dulu, tapi pas sudah jumpa kau begitu cepat pergi melambaikan keelokkan mu dengan genit. hehehe, ya sudah lah mungkin kita di lain kesempatan bisa berjumpa lagi PELANGI.

to be continued..

Menunggu mata terpejam di kamar yang sederhana
Tata Alam Asri- Medan Helvetia
15 Juli 2014

4 komentar: