
د dengan ذ
ر dengan ز
س dengan ش
ص dengan ض
ط dengan ظ
ع dengan غ
ف dengan ق dan و
Gak ada bedanya, hingga setelah tahun 59 Hijriah ada ulama namanya Imam Abul Aswad ad-Du'ali yang menggagas:
واضع النقاط على الحروف
Bikin titik untuk membedakan huruf satu dengan yang lain.
Baru orang bisa baca karena adanya titik-titik tersebut, tapi lama-lama sudah ada titiknya masih ada orang yang salah baca Al-Qur'an, maka tahun 170 Hijriah ada ulama namanya Imam Khalil bin Ahmad al-Farahidi dari kota Farhad (Afghanistan) yang bikin baris Harakat, ada Fathah (Fathatain), Kasrah (Kasratain), Dammah (Dammatain), Tasydid, dan Sukun.
Sudah ada titik dan baris pun masih ada juga yang bersalahan membacanya, maka ada seorang ulama ingin agar bacaan huruf benar sesuai Makhraj-nya, namanya Abu 'Ubaid Qasim bin Salam membikin ilmu Tajwidi Tilawatil Qur'an pada tahun 224 Hijriah. Baru ada kita kenal Izhar, Idgham, Ikhfa, Iqlab, Qalqalah, Mad, dan lain sebagainya.
Melalui berbagai kemudahan itu, masih salahkah membaca Al-Qur'an? Masih tak maukah memperbaikinya dengan belajar Tahsin? Atau masih tak mau juga membaca Al-Qur'an? Allah Karim.
Sumber: Disadur dari ceramah Prof. Dr. K.H. Said Aqil Siradj, M.A.