Raka Herman
punya segalanya. Mobil sport, kartu kredit unlimited, teman-teman
elit, dan status sebagai "Sultan" di SMA Harapan Bangsa. Baginya,
kemiskinan adalah penyakit menular yang harus dihindari, dan Tuhan hanyalah
konsep abstrak yang dibicarakan orang-orang kalah. Namun, dalam satu malam,
dunianya runtuh. Ayahnya bangkrut. Rumah mewahnya disita. Teman-temannya
menghilang.
Kini, Raka
berdiri di lorong rumah sakit yang dingin dengan perut lapar dan harga diri
yang hancur. Ayahnya sekarat di dalam sana, dan Raka butuh uang puluhan juta
dalam hitungan jam untuk menyelamatkannya.
Saat
keputusasaan memuncak, Raka menemukan sebuah dompet tebal tergeletak di
parkiran sepi. Isinya cukup untuk membayar biaya ICU. Setan berbisik: Ambil.
Tidak ada yang melihat.
Di antara
himpitan dosa dan bakti pada orang tua, Raka melarikan diri ke sebuah musala basement
yang pengap. Di atas sebuah sajadah usang yang berbau apek, Raka dipaksa melakukan
satu hal yang tak pernah ia lakukan dengan sungguh-sungguh seumur hidupnya: Sujud.
Ini bukan
kisah tentang keajaiban uang jatuh dari langit. Ini adalah kisah tentang
seorang pemuda yang kehilangan dunia, tapi menemukan hatinya.
