Senin, 22 Juni 2015

Kepemimpinan Islam Kepemimpinan Qur’ani

A.    Pengertian
Urgensitas kepemimpinan dalam mengoperasionalkan organisasi mempunyai peranan yang sangat mendasar dalam mencapai tujuan yang telah dirumuskan. Karena aktivitas pemimpin berusaha memengaruhi, membimbing dan mengarahkan orang lain untuk bekerjasama dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. Sebagai awal pemahaman, dikemukakan pengertian kepemimpinan untuk dapat membangun struktur kognisi tersendiri dengan berdasarkan pada beberapa pengertian menurut para ahli.
Kepemimpinan menurut Winardi ialah mengartikan usaha untuk memengaruhi orang antar perorangan lewat komunikasi untuk mencapai beberapa tujuan. Maka wajarlah jika gaya kepemimpinan itu diterjemahkan dengan cara seorang pemimpin lewat komunikasinya untuk memengaruhi orang lain dalam rangka pencapaian tujuan organisasi/lembaga.[1]
Sejalan dengan Winardi, Good juga member pengertian bahwa kepemimpinan adalah “The anality and readiness to inspire, guide, direct, organisasi manage other”. Artinya, kepemimpinan merupakan suatu kemampuan seseorang untuk memengaruhi, membimbing dan mengarahkan atau mengelola orang lain agar mau berbuat demi tercapainya tujuan bersama.[2] Dari pengertian yang dikemukakan oleh Good ini seseorang yang ingin diakui sebagai pemimpin harus memiliki kelebihan dalam berbagai fungsi yang dieksplisitkan di atas yakni: memengaruhi, membimbing sampai pada kemampuan mengelola orang lain. Di samping itu konsep tersebut juga mengimplisitkan adanya kemampuan mengelola orang lain yang disertai perasaan penuh semangat dan kepercayaan. Semangat mencerminkan kegairahan dalam bekerja, penuh kesungguhan dan intensitas dalam pelaksanaan kegiatan. Kepercayaan merefleksikan pengalaman dan kemampuan teknis yang dimiliki.
Lain halnya dengan Ahmad Sabban mendefenisikan kepemimpinan merupakan suatu tema yang tidak hanya actual disaat tertentu seperti menjelang pemilihan pemimpin, seperti pemilihan presiden dan sebagainya.[3] Membicarakan kepemimpinan sangat penting, sebab setiap orang adalah pemimpin yang telah diberikan amanah yang harus dijalankan secara benar. Implementasi kepemimpinan menyangkut hajat hidup orang banyak, sehingga senantiasa lekat dengan kehidupan manusia dalam setiap waktu, tempat dan keadaan. Oleh karenanya, dalam event-event pemilihan pemimpin, kepribadian pemimpin yang berkompetisi perlu dikenali lebih mendalam agar terwujud kepemimpinan yang bagus dan bersih (good and clean government).
Sedangkan menurut Quraish Shihab adalah kepemimpinan yang telah dipikul seseorang itu harus bisa menjadi teladan oleh masyarakatnya sekaligus selalu berada di depan dalam membimbing masyarakatnya.[4] Dalam artian Quraish memperoleh kesan bahwa seseorang yang mengemban amanah kepemimpinan tersebut bukan hanya harus mampu menunjukkan jalan meraih cita-cita rakyat yang dipimpinnya, tetapi juga harus dapat mengantarkan mereka ke pintu gerbang kebahagiaan. Seorang pemimpin tidak sekedar menunjukkan, tetapi mampu memberi contoh aktualisasi, sebagaimana halnya dengan seorang imam di dalam sholat.
Begitu banyaknya pengertian kepemimpinan yang telah disebutkan di atas, namun dapat dipahami bahwa tujuan dari kepemimpinan itu semua adalah sama yakni sama-sama mengedepankan kemaslahatan hajat hidup orang banyak. Tetapi dalam makalah singkat ini pemakalah batasi pada beberapa hal saja yang melingkupi kepribadian seorang pemimpin berdasarkan asas-asas qur’ani.
B.     Kepribadian Pemimpin Islami
Umat Islam secara normative memiliki kriteria kerpibadian pemimpin yang dijelaskan secara tegas dalam firman Allah. Mengingat kepribadian pemimpin telah digariskan dalam firman Allah, maka umat Islam harus merujuk kepada ketentuan tersebut dalam memilih seorang pemimpin. Kepribadian yang dimaksud, antara lain adalah:
Pertama, Mencintai kebenaran dan Hanya Takut Kepada Allah
            Sikap ini mutlak harus dimiliki seorang pemimpin. Berdasarkan criteria ini, maka yang pertama harus diperhatikan dalam memilih pemimpin adalah apakah pemimpin yang akan dipilih itu mencintai kebenaran dan memiliki rasa takut kepada Allah SWT? Hanya pemimpin yang memiliki loyalitas keimanan yang memiliki kepribadian yang tegas dalam menjalankan kebenaran dan keadilan, sebab ia hanya takut kepada Allah.
            Kepribadian pemimpin yang cinta kebenaran dan takut kepada Allah, tentunya akan melahirkan sikap mencintai keadilan dan kejujuran. Sikap tersebut menjadi rangkaian yang saling menyatu dan sangat penting dalam mewujudkan efektivitas kepemimpinan.[5] Firman Allah dalam Alqur’an surat Al-Maidah ayat 8 menyebutkan:

 (8) ٱعْدِلُوا۟هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ...

Artinya: “Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Karena itu bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”[6]
Syeikh Muhammad Ali Ash-Shabuni di dalam tafsirnya menjelaskan kata “Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa”maksudnya adalah berlaku adil terhadap orang-orang yang kamu benci, lebih dekat kepada ketakwaanmu kepada Allah. Dalam artian ialah keadilan itu tak hanya berpihak pada orang-orang yang kamu sukai melainkan juga berpihak pada orang-orang yang kamu benci, maka dengan itu penilaian Allah kepadamu dalam berlaku adil hingga mendekatkanmu kepada ketakwaan. “Karena itu bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”. Allah mengetahui amal-amalmu, lalu Allah akan membalas kamu atas amal-amal itu.[7]
Az-Zamakhsyari memberi komentar bahwa, “Ayat ini merupakan peringatan besar bahwasanya berlaku adilpun harus diterapkan terhadap orang kafir yang notabenenya adalah musuh-musuh Allah yang jelas kamu benci, tentunya kewajiban bebuat adil harus lebih ditekankan kepada orang-orang mukmin yang mereka adalah kekasih-kekasihnya.[8]
Kedua, Dipercaya dan Mempercayai Orang Lain
Dipercaya dan dapat mempercayai orang lain adalah kepribadian kedua yang harus diperhatikan dalam memilih pemimpin. Dipercaya orang lain merupakan manifestasi dari kepercayaan orang lain terhadap kepribadiannya sebagai pemimpin yang mampu melaksanakan kepemimpinan secara berdaya guna dan berhasil guna. Kepercayaan masyarakat muncul kepada pemimpin, karena rakyat secara luas telah menikmati hasil kepemimpinan yang berlangsung. Artinya, bukan sekedar retorika melainkan sudah teruji nadanya. Kepercayaah inilah yang tak bisa diukur dan materi.
Ketiga, Memiliki Wawasan dan Kecerdasan
Sangat sulit diterima akal jika pemimpin suatu bangsa tidak memiliki wawasand dan tingkat intelegensi serta pendidikan yang cukup memadai. Maka akan sulit dimintai pandangannya dalam memberikan solusi yang tepat terhadap krisis bangsanya. Anehnya, kenyataan yang sering terjadi pemimpin justru memiliki tingkat pendidikan yang rendah dari sebagian besar rakyatnya. Ini sangat potensial untuk menimbulkan terjadinya konsistensi kebijakan yang efektif karena adanya intervensi dan bisikan-bisikan eksternal. Tidak hanya itu, wawasan dan kerjaan tersebut harus dilandasi dengan iman dan takwa kepada Allah.
Keempat, Visioner, Setiakawan, Kreatif dan Inisiatif
Seorang pemimpin menempati posisi utama dan dambaan sebagai figur tempat meletakan yang dipimpinnya. Harapan itu hanya dapat dipenuhi jika pemimpinnya visioner, kreatif dan penuh memiliki inisiatif untuk maju. Dalam hal ini pemimpin harus merasakan bahwa aktifitasnya adalah bagian dari pengabdian terhadap orang-orang yang dipimpinnya. Pemimpin berbuat dan bekerja semata-mata untuk kepentingan bersama atas dasar rasa kesetiakawanan karena menyadari bahwa keberhasilan kepemimpinannya tergantung respon dan dukungan dari semua pihak. Begitupun, inisiatif dan kreatifitas dalam memajukan dan membangun bangsanya haruslah tetap konsisten berada dalam lingkup menaati perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
Kelima, Bertanggung-jawab, Konsekuen, Disiplin dan bijaksana
Pemimpin merupakan motor penggerak utama dalam sebuah struktur kepemimpinan dan untuk melakukan itu diperlukan kecerdasan dan kecepatan dalam mengambil keputusan. Keputusan yang cepat dan tepat sangat diperlukan dalam menghadapi kondisi yang mendesak dan kritis. Pemimpin tidak sekedar dituntut keberaniannya dalam mengambil keputusan, tetapi harus bertanggung-jawab atas dalam menyelesaikan permasalahan.
Pengalaman empiris negeri ini, dalam suasana negara yang genting justru pemimpinnya mengambil keputusan yang secara kacamata polititk hanya menguntungkan pribadi dan golongan saja dan bahkan tak jarang keputusan itu lebih mendahulukan fasilitas pribadi yang mewah dan itu menggunakan anggaran Negara. Tentu kita tidak menginginkan hal itu terus terjadi. Islam menghendaki agar memilih pemimpin yang kinerjanya dapat memenuhi hajat rakyat banyak. Dalam islam, pemimpin bukan hanya memiliki sekedar kemampuan manajerial dan instruktif. Lebih dari itu, yang paling penting adalah kepemimpinan yang orientasinya mencapai keridhoan Ilahi. Itu hanya akan terwujud jika mayoritas umat Islam memilih pemimpin yang mengedepankan kepribadian yang telah ditegaskan dalam Al-qur’an dan Sunnah.
C.    Memimpin dengan Hati
Memimpin atas dasar hati adalah kepemimpinan yang berlandaskan ketulusan dan efeknya berupa lahirnya kekuatan yang disebut sebagai kekuatan cinta (the power of love). Dengan kekuatan cinta seorang pemimpin diharapkan akan menyayangi, memperhatikan dan mengutamakan lembaga, organisasi, perusahaan ataupun rakyat yang dipimpinnya. Atas dasar kekuatan cinta juga diharapkan pemimpin akan bekerja dengan keikhlasan dan bertekad untuk melakukan yang terbaik dengan pengorbanan, komitmen, kebersamaan, idealisme, ketekunan dan konsisten.
Memimpin dengan menggunakan hati berarti melakukan segala tindakan dan aktivitas dalam rangka memimpin atas dasar cinta sehingga keikhlasan dalam berbuat akan mudah didapatkan dan kecanggungan serta kemalasan tidak sempat mengambil posisi.
a.       Memimpin atas Dasar Cinta
Seorang pemimpin yang memimpin atas dasar cinta dapat dipastikan akan menikmati kepemimpinannya, karena cinta bagi dirinya adalah kenikmatan. Ada pepatah yang mengatakan “The greatest pleasure of life is love” yang artinya kenikmatan terbesar dalam hidup adalah cinta. Maka kenikmatan bagi dirinya bukanlah memanfaatkan status demi kesenangan pribadi, tetapi ia merasakan kenikmatan jika dia mampu memberikan kebahagiaan dan kepuasan kepada rakyat atau bawahannya.[9]
Bagi seorang pemimpin yang mengutamakan cinta dalam memimpin rakyatnya atau bawahannya, ia merasa tidak bahagia jika tidak dicintai dan mencintai rakyatnya sebagaimana pepatah juga mengatakan “Life is less than nothing without love” yang artinya hidup tanpa cinta lebih parah dari sekedar hidup tak berarti. Oleh karena itu, wajar saja jika dikatakan bahwa cinta adalah permulaan, pertengahan dan akhir dari sesuatu. Untuk mendapatkan cinta dari bawahan  atau rakyatnya, seorang pemimpin harus memperhatikan bawahan atau rakyatnya, berusaha memuaskan mereka  dan berusaha memenuhi keinginan mereka. Sebagai seorang pemimpin, mendengar keluhan dan ratapan rakyat adalah merupakan keharusan.
b.      Figur Pemimpin Sejati
Seorang pemimpin yang berlandaskan cinta dalam memimpin rakyat atau bawahannya tentunya akan tampil sebagai pemimpin sejati yang mempunyai tujuan. Untuk mencapai tujuan tersebut, ia melakukannya dengan penuh gairah, membentuk dan menerapkan nilai-nilai yang tergambar dalam perilaku sang pemimpin. Ia akan menggunakan hati dengan penuh rasa sayang, mempunyai hubungan yang mesra dengan semua pihak dan mempunyai disiplin yang konsisten dijalaninya.[10]
c.       Memimpin dengan Kecerdasan Emosional
Seorang yang memimpin atas dasar cinta mestilah mempunyai kecerdasan emosi yang tinggi, sehingga dia mampu mengelola diri sendiri dan menjalin hubungan dengan pihak lain secara efektif. Seorang pemimpin yang mempunyai kecerdasan emosional mestilah orang yang mempunyai kecerdasan emosional itu sendiri. Ia mampu menilai dirinya secara akurat, serta mempunyai rasa percaya diri yang tinggi. Pemimpin demikian juga mesti pula mempunyai kemampuan untuk mengendalikan diri sendiri, jujur, bersikap hati-hati, mudah beradaptasi, mempunyai inisiatif serta berorientasi kepada prestasi.
            Kemampuan lainnya yang mesti dimiliki oleh pemimpin dengan kecerdasan emosional yang tinggi adalah mempunyai kecerdasan sosial yang dicirikan dengan empati yang tinggi, adanya kesadaran terhadap organisasi dan mempunyai jiwa kepelayanan terhadap rakyatnya. Hal terakhir yang mesti dimiliki adalah  keterampilan sosial yang ditandai dengan kepemimpinan yang visioner, komunikasi yang baik, kemampuan yang membentuk dan menggerakkan tim-tim kerjasama serta mampu memimpin dalam melakukan perubahan.
            Harapan kita semua tentunya kepada pemimpin yang sekarang maupun yang akan datang baik pemimpin nasional maupun pemimpin daerah agar mau mengguanakan hatinya. Mereka hendaklah seorang pemimpin yang mengerti kesulitan, kesusahan, tangisan dan ratapan rakyatnya, kita tidak berharap dan tidak pernah ingin pemimpin yang hanya tahu akan kepentingan dirinya. Tidak pula yang matanya buta melihat penderitaan rakyatnya, telinga yang tuli mendengarkan jeritan rakyatnya dan hati yang tertutup ketika merasakan sakit yang dialami rakyatnya.
D.    Tanggung Jawab Pemimpin
Tanggung jawab para pemimpin sangat besar. Sangat besar bahayanya apabila mereka melalaikan amar ma’ruf nahi munkar, karena mereka memiliki wewenang dan kekuasaan. Mereka memiliki kekuatan untuk memberlakukan apa yang mereka perintahkan dan larang serta memaksa manusia untuk melakukannya. Pengingkaran orang-orang yang berbuat maksiat tidak dikhawatirkan akan menimbulkan kerusakan karena kekuatan dan senjata ada di tangan mereka, sementara manusia masih menghargai perintah dan larangan seorang pemimpin. Oleh karena itu Rasulullah SAW bersabda, “ Orang-orang yang bisa diatur oleh kekuasaan lebih banyak daripada yang bisa diatur dengan Al-qur’an.”[11] Yaitu banyak manusia yang tidak terpengaruh dengan nasihat dan petunjuk sehingga mereka tidak takut untuk menyalahi dan tidak tunduk kepada kebenaran, sementara mereka merasa takut jika seorang penguasa mengacungkan tongkat dan memperlihatkan kilatan pedangnya.
Begitupun kewajiban seorang muslim dalam menaati pemimpinnya bukan berarti seorang muslim boleh mematuhi mereka dalam kemaksiatan terhadap Allah SWT karena taat dan patuh kepada Allah didahulukan atas ketaatan kepada mereka, sebagaimana firman-Nya dalam surat Al-mumtahanah ayat 12:
...وَلا يَعْصِينَكَ فِي مَعْرُوفٍ...

Artinya: “Dan ia sekali-kali tidak mendurhakaimu di dalam hal yang ma’ruf.”[12]
Rasulullah SAW juga bersabda, “Mendengar dan patuh adalah kewajiban seorang muslim di dalam hal yang ia suka atau ia tidak suka selagi tidak diperintah untuk bermaksiat kepada Allah. Maka apabila ia diperintah untuk bermaksiat, tidak ada kewajiban mendengar ataupun menaati.”[13]
Jika seorang pemimpin melalaikan akan hal itu, maka dia telah mengkhianati amanah yang diembankan oleh Allah di atas pundaknya serta mereka telah menyia-nyiakan rakyatnya yang Allah SWT titipkan kepada mereka.
E.  Penutup
Begitu banyak defenisi-defenisi kepemimpinan yang ditelurkan oleh banyak ahli tetapi tetap saja inti dan tujuan dari kepemimpinan itu adalah mengedepankan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi dan senantiasa berupaya melakukan program-program kepemimpinan dengan penuh cinta dan keikhlasan sehingga kesejahteraan dan kebahagiaan akan dapat terwujud dengan sendirinya. Tetapi hal yang paling urgen dari itu semua adalah kepemimpinan Islam harus berdasarkan apa yang telah ditegaskan Allah SWT di Al-qur’an dan disebutkan Rasulullah melalui haditsnya.
DAFTAR PUSTAKA
Abu Bakar Jabir, Pedoman Pedoman Hidup Seorang Muslim, tt, PT. Megatama Sofwa Pressindo, Medan
Ahmad Sabban Rajagukguk, Berdialog dengan Tuhan, 2009, Citapustaka Media Perintis, Bandung
Depag RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya
Mesiono, Manajemen Organisasi , 2012, Citapustaka Media Perintis, Bandung
Mushtafa Dieb dan Muhyidin Mistu, Al-wafi: Syarah Hadits Arba’in Imam Nawawi, 2013, Pustaka Al-kautsar, Jakarta Timur
M. Ali Ash-Shabuni, Shafwatut Tafasir, 2011, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta Timur
M. Quraish Shihab, Menabur Pesan Ilahi , 2006, Lentera Hati, Jakarta
Winardi, Asas-asas Manajemen, 1990, Mandar Madju, Bandung
Zulkarnain Lubis, Memimpikan Indonesia Baru, 2006, Citapustaka Media Perintis, Bandung



[1] Winardi, Asas-asas Manajemen (Bandung: Mandar Madju, 1990), h. 58
[2] Mesiono, Manajemen Organisasi (Bandung: Citapustaka Media Perintis, 2012), h. 59
[3] Ahmad Sabban Rajagukguk, Berdialog dengan Tuhan (Bandung: Citapustaka Media Perintis, 2009), h. 151
[4] M. Quraish Shihab, Menabur Pesan Ilahi (Jakarta: Lentera Hati, 2006), h. 387
[5] Ahmad Sabban Rajagukguk, Berdialog dengan Tuhan, h. 152
[6] Depag RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, h. 144
[7] M. Ali Ash-Shabuni, Shafwatut Tafasir (Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar, 2011), jil. 2, h. 16
[8] Ibid, h 17
[9] Zulkarnain Lubis, Memimpikan Indonesia Baru (Bandung: Citapustaka Media Perintis, 2006), h. 201
[10] Ibid, h. 202
[11] Mushtafa Dieb dan Muhyidin Mistu, Al-wafi: Syarah Hadits Arba’in Imam Nawawi, (Jaktim: Pustaka Al-kautsar, 2013), h.333
[12] DEPAG RI, Al-qur’an dan Terjemahnya, h.804
[13] Abu Bakar Jabir, Pedoman Hidup Seorang Muslim, (Medan: PT. Megatama Sofwa Pressindo, tt), h. 115
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar